Cebongan merupakan sebuah nama tempat yang berada di Kapanewon Mlati. Tepatnya di Kalurahan Tlogoadi. Dalam perjalanannya, kawasan Cebongan terus berkembang, memiliki peranan penting dan posisi yang strategis. Cebongan tidak cuma menjadi pusat pertanian, tetapi menjadi pusat-pusat sosial dan administratif pemerintahan, seperti pusat industri, pasar, kesehatan, pusat kapanewon dan kalurahan. Di Cebongan pernah pula terdapat pabrik gula.
Pabrik Gula (PG) Cebongan atau jaman Belanda dikenal dengan Suikerfabriek (Sf ) Cebongan. Sekarang telah beralih fungsi menjadi gudang, seperti untuk tempat penyimpanan beras. Sedangkan pabrik gula di Yogyakarta mulai ada sejak tahun 1830, dibangun jaman Perang Diponegoro. PG Cebongan, merupakan salah satu dari 19 pabrik gula yang ada di Yogyakarta.
Pada Agresi Militer Belanda II, PG Cebongan pernah diserbu oleh pelajar pejuang yang tergabung dalam kesatuan Tentara Pelajar dan diserang ketika malam hari. Sayang, kini bangunan fisik sudah tidak tersisa. Adanya pabrik gula, juga tidak terpisahkan dengan kisah asal mula nama Padukuhan Cebongan. Serta berkaitan dengan sosok Kyai Cebong.
Kisah Kiai Cebong
Nama Padukuhan Cebongan tidak dapat terpisahkan dengan keberadaan Kiai Cebong. Menurut Budiyono (62 tahun) warga sekaligus sesepuh Padukuhan Cebongan Lor, ada cerita yang sifatnya sudah turun-temurun tentang asal mula nama padukuhan atau dusun. Cerita ini dituturkan secara turun-temurun oleh para leluhur terdahulu. Termasuk diceritakan oleh ayahnya yang bernama Joyo Pawiro. “Kisah nama Cebongan yang saya sampaikan ini, diperoleh dari ayah saya. Serta para orang tua yang tinggal di sini. Mbah Kiai Cebong merupakan Cikal bakal padukuhan ini, makamnya berada di tengah sawah, di padukuhan sebelah timur,” katanya. Selanjutnya, Budiyono yang akrab disapa Pak Budi itu mengungkapkan, Cebongan, waktu itu merupakan kawasan yang ditempati oleh warga masyarakat yang sangat sederhana. Di padukuhan ini terdapat lembah dan ngarai. Di sisi Timur dibatasi oleh Sungai Bedog, sedangkan di sebelah Barat dibatasi oleh Sungai Kontheng. Tidak mengherankan kalau tanahnya sangat subur. Warga masyarakat hidup dengan damai dan tenteram. Mata pencaharian mereka sebagian besar dengan bercocok tanam.
Karena kondisi tanahnya yang subur itulah, oleh penjajah kolonial, Belanda, dijadikan sebagai tempat untuk mengakses beberapa komoditas yang ada di sekitarnya. Lalu, Belanda mendirikan pabrik gula yang cukup besar. Dalam menjalankan dan mengelola pabrik tersebut, Belanda mengadakan pengawasan yang cukup ketat di kawasan ini, seperti diadakan patroli. Hal itu membuat orang-orang tidak bisa mengakses dan mengetahui seluk-beluk pabrik gula.
Keadaan tersebut membuat kaum pejuang, pengikut Pangeran Diponegoro ingin mengetahu kegiatan apa saja di dalam pabrik yang dilakukan oleh pengelola. Lantas, dikirimkanlah mata-mata, telik sandi atau petugas intelijen untuk mengawasi pabrik.
Pada suatu saat, ketika pasukan kompeni berpatroli, dijelaskan Pak Budi, diganggu oleh orang-orang di sekitar pabrik gula. “Karena diganggu, membuat marah serdadu-serdadu kompeni. Mereka menyelidiki, siapa yang menggerakkan warga masyarakat untuk selalu mengganggu ketenangan serdadu Kompeni,” kata Bapak Budiyono yang pensiunan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta ini.
Pasukan kolonial lalu mengadakan pengamatan dan penyelidikan, ternyata ada seorang paruh baya yang selalu ada dalam kekacauan- kekacauan. Intelejen Kompeni selalu bertanya kepada warga masyarakat, tentang siapa jatidiri orang paruh baya tersebut. Namun, selalu dijawab tidak ada yang mengerti siapa sebenarnya sosok orang tersebut.
Dengan meminta bantuan orang-orang pribumi yang dibujuk untuk diberi harta dan kedudukan, maka dapat diketahui tempat tinggal orang penuh misteri itu. Yaitu bertempat tinggal di hutan kecil, berada di dekat persawahan dan lembah atau para warga sering menyebutnya ledhok.
Setelah tempat tinggalnya diketahui, kemudian pasukan Kompeni mengadakan penggrebekan, akan melakukan penangkapan. Namun, ternyata orang ini memiliki kesaktian, daya linuwih. Karena akan ditangkap, melakukan perlawanan yang sangat sengit.
Meskipun memiliki daya linuwih, kesaktian, tetapi karena pasukan Kompeni terlalu banyak, memakai senjata yang lengkap, maka perlawanan tidak diteruskan. “Akhirnya, orang itu menghilang begitu saja. Kemudian yang muncul justru ribuan berudu atau anak katak. Baik itu, pasukan Kumpeni maupun para pengkhianat dan warga yang menyaksikan berteriak, Cebong…Cebong…. Cebong….” ujar Pak Budi, ayah tiga putera sambil menerangkan bahwa kalau Cebong itu dalam bahasa Jawa yang berarti anak katak.
Setelah beberapa tahun kemudian, Pak Budi melanjutkan ceritanya, kondisi dan situasi sudah aman. Orang paruh baya tersebut muncul kembali dan hidup bersama istrinya di pinggir hutan kecil dekat persawahan. Hidupnya sangat sederhana, bersahaja, penuh rasa welas asih, sehingga banyak masyarakat yang datang dan bersama – sama membuka hutan kecil. Namun, siapakah jati diri orang tersebut, tidak ada pernah yang tahu.
Cuma kemudian sosok ini dikenal sebagai Kiai dan Nyai Cebong yang membuka hutan kecil, babat alas. Selanjutnya wilayah itu dikenal dengan nama Padukuhan Cebongan.
Sedangkan jejak-jejak Kiai Cebong, yaitu berupa makam berada di tengah sawah. Juga, ada tanah cekungan, lembah atau ledhok. Makam Kiai dan Nyai Cebong, dinauingi dua pohon Kamboja yang cukup besar. pohon Kamboja kembar dengan bunga berwarna putih. Tidak diketahui siapa yang menanam pohon Kamboja ini. “Pohon yang usianya diperkirakan mencapai ratusan tahun. Sejak saya kecil sampai sekarang, pohon Kamboja, ya tetap besar seperti ini,” ungkap Pak Budi, sambil menunjukkan pohon yang berada di sebelah barat pusara Kiai dan Nyai Cebong.
Ada cerita menarik tentang makam Kiai dan Nyai Cebong. Tidak bisa dilepaskan dengan kisah mistis. Ketika ada warga yang akan membangun makam, dengan memberi batu nisan di atas pusara makam Kiai Cebong, selalu berpindah sendiri. Karena persitiwa itu, batu nisan pun tidak jadi dipasang. Pusaranya dibiarkan seperti sekarang, seperti bentuk pada makam di Taman Makam Pahlawan. Cuma diberi batu keramik berwarna hitam. Para peziarah, tidak hanya warga Cebongan dan sekitarnya, tetapi ada yang datang dari luar daerah Sleman, seperti Magelang, Kebumen, Wonosobo dan kota lainnya. Di sekitar makam, juga pernah tumbuh beberapa pohon dengan ukuran besar, seperti pohon Sukun, Duwet dan Kendal.
Di sebelah barat daya makam terdapat cekungan tanah, sering disebut ledhok. Ledhok, di tanah yang dulunya berupa lembah, rawa-rawa ini ada mata air, dikenal dengan sebutan Tuk Kranji atau Belik Kranji, di bawah pohon beringin. Sampai sekarang mata air terawat dengan baik. Airnya nampak jernih. Bahkan di musim kemarau tetap tidak kering. Dimanfaatkan warga setempat untuk sarana perikanan dan pertanian.
Selain itu, ada kisah yang berhubungan dengan tokoh lainnya, berasal dari Padukuhan Cebongan bernama Mbah Buchori. Mbah Buchori itu merupakan sosok yang disegani di Cebongan. Sebuah lubang di selatan Belik Kranji berkaitan dengan Mbah Buchori. Konon tempat menghilangnya seekor ular yang besar. Ular besar ini berjalan dari rumah Mbah Buchori, kemudian menghilang di lubang sebelah selatan belik. Masuk wilayah Padukuhan Cebongan Kidul. Tempat menghilangnya ular termasuk yang dikeramatkan.
Untuk melestarikan ajaran-ajaran para leluhur di Cebongan, telah dibentuk kelompok masyarakat, Dengan mengambil nama tokoh Kiai Cebong sebagai cikal bakal Padukuhan Cebongan. Kelompok ini berupa bregada prajurit yang diberi nama ‘’Bregada Kiai Cebong’’, diketuai oleh Rahmad Hadi Sudibyo. Jumlah anggotanya ada 50 orang. Bahkan telah memiliki Nomor Induk Kebudayaan Daerah (NIKD) dan terdaftar di Dinas Kabudayan Kabupaten Sleman.
Lewat ‘’Bregada Kiai Cebong’’, diterangkan oleh Pak Budi, merupakan sarana untuk mewariskan tradisi dan budaya yang sudah ada di Cebongan kepada generasi muda. “Setiap tahun ada Merti Padukuhan Cebongan atau Nyadranan dilakukan bersama warga Padukuhan Cebongan Kidul. Diadakan berdasarkan penanggalan Jawa, di bulan Ruwah, menjelang puasa,” ujarnya.
Sementara itu, menurut Dukuh Cebongan Lor, Risman (55 tahun), kawasan Cebongan terus berkembang, seiring dengan perjalanan waktu dan perubahan jaman. Yang semula lahan pertanian, kini telah berubah, padat dengan pemukiman penduduk. Profesi yang dijalani warganya pun bermacam-macam, ada yang bekerja di sektor swasta, petani, pedagangm pegawai negeri dan lainnya. “Tidak hanya dihuni warga asli Cebongan, tetapi ada pula pendatang dari daerah lain, hidup membaur menjadi satu di padukuhan sini,” katanya.
Pembuat Artikel: Agus Bakti Sedjatiawan
Tenaga Ahli Penulis: Achiayadi, S.Pd
Foto: Agus Bakti Sedjatiawan