Di wilayah Cebongan pernah berdiri sebuah pabrik gula yang dikenal dengan nama P.G. Cebongan (Sf. Cebongan). Kenapa ada pabrik gula di wilayah Cebongan ya? Pertanyaan yang muncul dibenak kami. Hingga pada keesokan harinya kami mulai mengulik asal muasal pabrik gula Cebongan.
Menurut beberapa sumber, kemunculan pabrik gula merupakan dampak dari disahkannya Agrarische Wet oleh parlemen Belanda, sekitar 1870-an yang membuat para penguasa swasta di Belanda bersuka cita. Poin utama pada undang-undang tersebut ialah semakin terbukanya ekonomi kolonial untuk swasta yang menanamkan modalnya di Hindia-Belanda dalam bentuk perusahaan perkebunan swasta berorientasi tanaman ekspor seperti teh, kopi, kina, tembakau, dan terutama, tebu. Pada waktu itu, harga gula di pasaran dunia sedang cukup bagus sehingga dibukalah perkebunan tebu berserta pabrik gula di Pantura hingga Jawa Timur. Wilayah Yogyakarta-Surakarta yang pada waktu itu disebut Vorstenlanden juga ikut menikmati manis bisnis gula.
Lalu mengapa P.G Cebongan saat ini sudah hilang? Singkat cerita selain krisis ekonomi yang menghantam dunia sekitar tahun 1930-an, datangnya tentara Jepang di Nusantara pada tahun 1942 membuat pabrik gula yang masih bertahan diambil alih. Pada masa setelah kemerdekaan, Pabrik Gula di Yogyakarta tersisa empat, namun pada masa perjuangan pasca-kemerdekaan, pabrik-pabrik gula itu menjadi dibakar dengan tujuan agar bangunan pabrik gula tidak digunakan sebagai markas Belanda.