Kyai Abdulhadi atau Kyai Baulawi merupakan cikal bakal Padukuhan Bolawen. Tempat Kyai Baulawi menetap akhirnya menjadi Padukuhan Bolawen.

Lalu, apa makna nama Baulawi? Menurut keterangan dari seorang yang buyutnya adalah tokoh di Bolawen pada zaman penjajahan dahulu, nama Baulawi asalnya dari Mbulawi atau mambu lawe, yang artinya ‘berbau kain kafan’ atau ‘tali pocong’. Maknanya, orang yang sudah tua, yang tidak lama lagi meninggal dunia. Sehingga, pihak Belanda pun memutuskan melepaskan Mbah Baulawi karena sudah tua dan tidak akan berontak lagi.

Kyai Baulawi wafat pada 1833 dan dimakamkan di permakaman Padukuhan Bolawen. Ikut menemani di makam beliau, dua sahabatnya, Tuan Kaji Ngali dan Kyai Mentoho. Hanya tiga tahun Kyai Baulawi menetap di Bolawen dan setiap tahun diadakan peringatan Haul pada tanggal 2 Sya’ban (Ruwah). Sesudah dicari dengan aplikasi ketemulah tanggal Kyai Baulawi wafat, yaitu 2 Sya’ban 1249 H atau 15 Desember 1833.